Mengenal Gaya Kepemimpinan Presiden di Indonesia
OPINI | 16 April 2013 | 12:23
Demokratiskah atau Otoriter.. ???

1. Presiden Soekarno,
Adalah bapak proklamator, seorang orator ulung yang bisa membangkitkan
semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Beliau memiliki gaya
kepemimpinan yang sangat populis, bertempramen meledak-ledak, tidak
jarang lembut dan menyukai keindahan.
Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada
moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga
sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut.
Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya
diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan inovatif serta
kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya,
pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari
bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan
dari negara-negara Barat (Amerika dan Eropa).
Ir.
Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang
menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta
kemerdekaan bangsanya. Namun berdasarkan perjalanan sejarah
kepemimpinannya, ciri kepemimpinan yang demikian ternyata mengarah pada
figur sentral dan kultus individu. Menjelang akhir kepemimpinannya
terjadi tindakan politik yang sangat bertentangan dengan UUD 1945, yaitu
mengangkat Ketua MPR (S) juga.
Soekarno
termasuk sebagai tokoh nasionalis dan anti-kolonialisme yang pertama,
baik di dalam negeri maupun untuk lingkup Asia, meliputi negeri-negeri
seperti India, Cina, Vietnam, dan lain-lainnya. Tokoh-tokoh nasionalis
anti-kolonialisme seperti inilah pencipta Asia pasca-kolonial. Dalam
perjuangannya, mereka harus memiliki visi kemasyarakatan dan visi
tentang negara merdeka. Ini khususnya ada dalam dasawarsa l920-an dan
1930-an pada masa kolonialisme kelihatan kokoh secara alamiah dan legal
di dunia. Prinsip politik mempersatukan elite gaya Soekarno adalah “alle
leden van de familie aan een eet-tafel” (semua anggota keluarga duduk
bersama di satu meja makan). Dia memperhatikan asal-usul daerah, suku,
golongan, dan juga parta
2. Presiden Soeharto
Diawali
dengan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966 kepada
Letnan Jenderal Soeharto, maka Era Orde Lama berakhir diganti dengan
pemerintahan Era Orde Baru. Pada awalnya sifat-sifat kepemimpinan yang
baik dan menonjol dari Presiden Soeharto adalah kesederhanaan,
keberanian dan kemampuan dalam mengambil inisiatif dan keputusan, tahan
menderita dengan kualitas mental yang sanggup menghadapi bahaya serta
konsisten dengan segala keputusan yang ditetapkan.
Gaya
Kepemimpinan Presiden Soeharto merupakan gabungan dari gaya
kepemimpinan Proaktif-Ekstraktif dengan Adaptif-Antisipatif, yaitu gaya
kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan melihat tantangan sebagai
sesuatu yang berdampak positif serta mempunyal visi yang jauh ke depan
dan sadar akan perlunya langkah-langkah penyesuaian.
Tahun-tahun
pemerintahan Suharto diwarnai dengan praktik otoritarian di mana
tentara memiliki peran dominan di dalamnya. Kebijakan dwifungsi ABRI
memberikan kesempatan kepada militer untuk berperan dalam bidang politik
di samping perannya sebagai alat pertahanan negara. Demokrasi telah
ditindas selama hampir lebih dari 30 tahun dengan mengatasnamakan
kepentingan keamanan dalam negeri dengan cara pembatasan jumlah partai
politik, penerapan sensor dan penahanan lawan-lawan politik. Sejumlah
besar kursi pada dua lembaga perwakilan rakyat di Indonesia diberikan
kepada militer, dan semua tentara serta pegawai negeri hanya dapat
memberikan suara kepada satu partai penguasa Golkar
Bila
melihat dari penjelasan singkat di atas maka jelas sekali terlihat
bahwa mantan Presiden Soeharto memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter,
dominan, dan sentralistis
3. B.J. Habibie
Menjadi
presiden bukan karena keinginannya. Hanya karena kondisi sehingga ia
jadi presiden. Orang yang cerdas tapi terlalu lugu dalam politik. Karena
ingin terlihat bagus, ia membuat blunder dalam masalah timor timur.
Sebenarnya
gaya kepemimpinan Presiden Habibie adalah gaya kepemimpinan
Dedikatif-Fasilitatif, merupakan sendi dan Kepemimpinan Demokratik. Pada
masa pemerintahan B.J Habibie ini, kebebasan pers dibuka lebar-lebar
sehingga melahirkan demokratisasi yang lebih besar. Pada saat itu pula
peraturan-peraturan perundang-undangan banyak dibuat. Pertumbuhan
ekonomi cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya Habiebi sangat
terbuka dalam berbicara tetapi tidak pandai dalam mendengar, akrab dalam
bergaul, tetapi tidak jarang eksplosif. Sangat detailis, suka uji coba
tapi tetapi kurang tekun dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Dalam
penyelengaraan Negara Habibie pada dasarnya seorang liberal karena
kehidupan dan pendidikan yang lama di dunia barat.
Gaya
komunikasinya penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa
mau memikirkan risikonya. Tatkala Habibie dalam situasi penuh emosional,
ia cenderung bertindak atau mengambil keputusan secara cepat. Seolah ia
kehilangan kesabaran untuk menurunkan amarahnya. Bertindak cepat,
rupanya, salah satu solusi untuk menurunkan tensinya. Karakteristik ini
diilustrasikan dengan kisah lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Habibie
digambarkan sebagai pribadi yang terbuka, namun terkesan mau menang
sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap kritik
4. Abdurahman Wahid
Seorang kiai yang sangat liberal dalam pemikirannya, penuh dengan ide, sangat tidak disiplin, dan berkepemimpinan ala LSM.
Gaya
kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid adalah gaya kepemimpinan
Responsif-Akomodatif, yang berusaha untuk mengagregasikan semua
kepentingan yang beraneka ragam yang diharapkan dapat dijadikan menjadi
satu kesepakatan atau keputusan yang memihki keabsahan. Pelaksanaan dan
keputusan-keputusan yang telah ditetapkan diharapkan mampu menggerakkan
partisipasi aktif para pelaksana di lapangan, karena merasa ikut
terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan kebijaksanaan
Beliau
ini awalnya memberikan banyak harapan untuk kemajuan Indonesia. Seolah
bisa menjadi figur yang bisa diterima oleh berbagai kelompok didalam dan
luar negeri. Tapi setelah menjadi presiden, bicaranya ngelantur tidak
karu-karuan. Hari ini A, besok B lusa C. Sebagai rakyat aku sendiri ikut
capai mikirin Negara di bawah Gus Dur ini. Orang seperti ini
yang dianggap 1/2 wali oleh sebagian orang cukup berbahaya untuk
memimpin bangsa. Beruntung MPR melengserkannya dari kursi presiden
5. Megawati Soekarno Putri
Berpenampilan
tenang dan tampak kurang acuh dalam menghadapi persoalan. Tetapi dalam
hal-hal tertentu megawati memiliki determinasi dalam kepemimpinannya,
misalnya mengenai persoalan di BPPN, kenaikan harga BBM dan pemberlakuan
darurat militer di Aceh Nanggroe Darussalam.
Gaya kepemimpinan megawati yang anti kekerasan itu tepat sekali untuk menghadapi situasi bangsa yang sedang memanas.
Megawati
lebih menonjolkan kepemimpinan dalam budaya ketimuran. Ia cukup lama
dalam menimbang-nimbang sesuatu keputusan yang akan diambilnya. Tetapi
begitu keputusan itu diambil, tidak akan berubah lagi. Gaya kepemimpinan
seperti bukanlah suatu ke1emahan. Seperti dikatakan oleh Frans Seda:
“Dia punya intuisi tajam. Sering kita berpikir, secara logika,
menganalisa fakta-fakta, menyodorkan bukti-bukti, tapi tetap saja belum
pas. Di saat itulah Mega bertindak berdasarkan intuisinya, yang oleh
orang-orang lain tidak terpikirkan sebelumnya.”
Cukup
demokratis, tapi pribadi Megawati dinilai tertutup dan cepat emosional.
Ia alergi pada kritik. Komunikasinya didominasi oleh keluhan dan
uneg-uneg, nyaris tidak pernah menyentuh visi misi pemerintahannya
6. Susilo Bambang Yudhono
Beliau
ini presiden pertama yang dipilih oleh rakyat. Orangnya mampu dan bisa
menjadi presiden. Juga cukup bersih, kemajuan ekonomi dan stabilitas
negara terlihat membaik. Sayang tidak mendapat dukungan yang kuat di
Parlemen. Membuat beliau tidak leluasa mengambil keputusan karena harus
mempertimbangkan dukungannya di parlemen. Apalagi untuk mengangkat kasus
korupsi dari orang dengan back ground parpol besar, beliau keliahatan
kesulitan. Sayang sekali saat Indonesia punya orang yang tepat untuk
memimpin, parlemennya dipenuhi oleh begundal-begundal oportunis yang
haus uang sogokan.
Pembawaan
SBY, karena dibesarkan dalam lingkungan tentara dan ia juga berlatar
belakang tentara karir, tampak agak formal. Kaum ibu tertarik kepada SBY
karena ia santun dalam setiap penampilan dan apik pula berbusana.
Penampilan semacam ini meningkatkan citra SBY di mata masyarakat.
SBY
sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan kapanpun, di manapun,
dan dalam kondisi apapun. Sangat jauh dari anggapan sementara kalangan
yang menyebut SBY sebagai figur peragu, lambat, dan tidak “decisive”
(tegas). Sosok yang demokratis, menghargai perbedaan pendapat, tetapi
selalu defensif terhadap kritik. Hanya sayang, konsistensi Yudhoyono
dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah dan membingungkan
publik.



0 komentar:
Posting Komentar